3/28/2018

Sajak Meyempurnakan Separuh Agama

nikah separuh agama
Teruntukmu seseorang yang kelak nantinya akan meyempurnakan separuh agama. Mungkin untuk saat ini jarak yang menjadi penghalang. Entah dibelahan bumi mana berada,
Yang pasti selalu abadi dalam setiap doa kepada-Nya

Meskipun raga belum berjumpa. Jiwa belum bersama. Dan mata belum bisa untuk saling bertatap muka. Namun, percayalah. Bahwa suatu hari nanti, pasti akan ada masanya Allah mempertemukan.

Segala sesuatu yang sudah Allah garis takdirkan di lauhul mahfudz-Nya.
Pasti akan ada waktunya semesta untuk merestuinya.

3/14/2018

Al-Qur'an Surat Al-Qasas Ayat 25

al qur'an
Al-Qur'an Surat Al-Qasas Ayat 25 ini, berbicara tentang kemuliaan seorang wanita. Lihatlah, bagaimana Allah mengabadikan di dalam Al-Qur'an sifat wanita, yaitu sifat malu. Maka, berhiaslah dengan sifat malu, sesungguhnya sifat malu adalah sifat yang menambah diri seorang wanita menawan dan mendekatkan kepada ketaqwaan.

Allah SWT berfirman:

فَجَآءَتْهُ إِحْدٰىهُمَا تَمْشِى عَلَى اسْتِحْيَآءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِى يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا  ۚ  فَلَمَّا جَآءَهُۥ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ  ۖ  نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِينَ
"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikanmu memberi minum ternak) kami. Ketika (Musa) mendatangi ayah wanita itu (Syeikh Madyan) dan dia (Syeikh Madyan) menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia berkata, Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu." (QS. Al-Qasas 28: Ayat 25)

Ibnul-Jauzi rahimahullah berkata tentang ayat ini ( Al-Qasas Ayat 25) :

Sebab rasa malunya ada tiga pendapat, salah satunya: Bahwasanya memang di antara sifatnya adalah malu, dia berjalan dengan cara jalannya wanita yang tidak biasa mondar-mandir keluar (rumah) (Zadul-Masir:3/380)

Al-Mufassir As-Si'di rahimahullah berkata : Ini menunjukkan kemuliaan tabiatnya dan akhlaqnya yang baik, karena sifat malu termasuk akhlaq yang mulia, terkhusus lagi pada diri wanita.(Tafsir As-Si'di: Al-Qashas ayat 25)

Macam-macam Siksaan Wanita Dalam Mi’raj Nabi Muhammad

Siksaan Wanita
Macam-macam Siksaan Wanita yang diceritakan dalam peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad :

1. Wanita menangis sambil meminta pertolongan tetapi tiada yang sanggup membantu. Gambaran balasan wanita yang berhias bukan kerana suaminya.

2. Wanita tergantung pada rambutnya, otaknya menggelegak dalam periuk. Balasan wanita yang tidak menutup auratnya (rambut)

3. Wanita berkepala seperti babi, badannya seperti kaldai dan menerima berbagai balasan wanita yang suka membuat fitnah, bermusuh dengan jiran dan membuat dusta.

4. Wanita yang mukanya hitam dan memamah isi perutnya sendiri. Balasan wanita yang mengoda dan menghairahkan lelaki.

5. Lelaki dan wanita yang ditarik kemaluannya ke depan dan ke belakang serta dilontar mukanya ke api neraka. Kemudian ditarik dan dipukul hingga keluar api dari badannya. Balasan orang yang membesarkan diri dan takabur kepada orang ramai.

6. Lelaki dan wanita dimasukkan besi pembakar daging dari duburnya, keluar hingga ke mulutnya. Balasan orang yang membuat fitnah, mengejek dan mencaci.

7. Wanita tergantung rambutnya di pohon Zakkum, api neraka membakarnya lalu kering kecut dagingnya terbakar. Balasan wanita yang minum ubat untuk membunuh janin.

8. Wanita dibelenggu dengan api neraka, mulutnya terbuka luas, keluar api dari perutnya. Balasan wanita yang menjadi penyanyi tidak sempat bertaubat.

9. Lelaki dan wanita yang masuk api ke dalam perut dari duburnya lalu keluar dari mulut. Balasan orang yang makan harta anak yatim.

10. Lelaki dan wanita kepalanya terbenam dalam api, dituang pula air panas ke badannya lalu melecur seluruh tubuhnya. Balasan orang yang berusaha ke arah pergaduhan sesama manusia.

Wanita Yang Suka Pamer Aurat, Ingatlah Adzabmu

adzab wanita
Ini jaman edan, wanita tak lagi seperti wanita, seakan ia mau menentang takdirnya sebagai perempuan, mengumbar aurat kemana-kemana. Larangan ia labrak, Al Qur'an tak didengar, hadits pun tak digubris, meskipun adzab menanti, ia , tak perduli. Yang penting happy bisa menarik perhatian orang, . 

Sangat disayangkan, kebanyakan wanita telah hilang dan pudar pada dirinya sifat yang mulia ini. Pamer aurat di tempat-tempat umum adalah hal yang biasa. Bahkan mereka yang dikatakan telah hijrah kadang tidak menjaga adab-adab syar'i selaku seorang wanita muslimah. 

Mulai dari suka selfi, diopload di berbagai medsos, jadi model iklan, dan berbagai macam tingkah dan prilaku yang disaksikan di medsos adalah tanda jauhnya para wanita dari sifat malu kecuali yang dirahmati Allah.

Kini, wanita tak lagi punya rasa malu. Kemuliaannya hilang gara-gara ingin jadi model bintang pujaan sosmed. Kehormatannya ambles hanya karena demi ingin dilihat di pinggir-pinggir jalan. 

Allah berfirman tentang wanita yang punya rasa malu :

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ..
Lalu datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan rasa malu...(QS.Al-Qashas:25)

Al-Allamah Ibnul-Jauzi rahimahullah berkata:

Sebab rasa malunya ada tiga pendapat, salah satunya: Bahwasanya memang di antara sifatnya adalah malu, dia berjalan dengan cara jalannya wanita yang tidak biasa mondar-mandir keluar (rumah) (Zãdul-Masîr:3/380)

Al-Mufassir As-Si'di rahimahullah pun menafsirkan :

Ini menunjukkan kemuliaan tabiatnya dan akhlaqnya yang baik, karena sifat malu termasuk akhlaq yang mulia, terkhusus lagi pada diri wanita.(Tafsir As-Si'di: Al-Qashas ayat 25)

Lihatlah, bagaimana Allah mengabadikan di dalam Al-Qur'an sifat wanita, yaitu sifat malu. Ini adalah adab yang baik, utama, dan termasuk sifat yang paling mulia yang ada pada diri seorang wanita, apalagi jika dia seorang wanita muslimah.

Maka, berhiaslah dengan sifat malu wahai saudariku, sesungguhnya sifat malu adalah sifat yang menambah dirimu menawan dan mendekatkan kepada ketaqwaan.


Tentu sudah tidak asing lagi adzab bagi wanita yang sering diceritakan oleh Nabi kita. Rasulullah s.a.w. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang bermaksud:   “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu:

1.  Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam).

2. Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan boleh masuk syurga, serta tidak dapat akan mencium bau syurga, padahal bau syurga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian. (Riwayat Muslim)


Mari sejenak merenung mengenaik Peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad :

1. Wanita menangis sambil meminta pertolongan tetapi tiada yang sanggup membantu. Gambaran balasan wanita yang berhias bukan kerana suaminya.

2. Wanita tergantung pada rambutnya, otaknya menggelegak dalam periuk. Balasan wanita yang tidak menutup auratnya (rambut)

3. Wanita berkepala seperti babi, badannya seperti kaldai dan menerima berbagai balasan wanita yang suka membuat fitnah, bermusuh dengan jiran dan membuat dusta.

4. Wanita yang mukanya hitam dan memamah isi perutnya sendiri. Balasan wanita yang mengoda dan menghairahkan lelaki.

5. Lelaki dan wanita yang ditarik kemaluannya ke depan dan ke belakang serta dilontar mukanya ke api neraka. Kemudian ditarik dan dipukul hingga keluar api dari badannya. Balasan orang yang membesarkan diri dan takabur kepada orang ramai.

6. Lelaki dan wanita dimasukkan besi pembakar daging dari duburnya, keluar hingga ke mulutnya. Balasan orang yang membuat fitnah, mengejek dan mencaci.

7. Wanita tergantung rambutnya di pohon Zakkum, api neraka membakarnya lalu kering kecut dagingnya terbakar. Balasan wanita yang minum ubat untuk membunuh janin.

8. Wanita dibelenggu dengan api neraka, mulutnya terbuka luas, keluar api dari perutnya. Balasan wanita yang menjadi penyanyi tidak sempat bertaubat.

9. Lelaki dan wanita yang masuk api ke dalam perut dari duburnya lalu keluar dari mulut. Balasan orang yang makan harta anak yatim.

10. Lelaki dan wanita kepalanya terbenam dalam api, dituang pula air panas ke badannya lalu melecur seluruh tubuhnya. Balasan orang yang berusaha ke arah pergaduhan sesama manusia.

Berhatilah-hatilah para wanita. Yang sering membuka rambut kepalanya. Dada yang sengaja dibuka ditonjolkan supaya kelihatan seksi. Berpakaian tapi telanjang. Yang suka pamer di sosmed. Ingatlah adzab yang sedang menunggu.

3/10/2018

Melarang Mahasiswi Bercadar, Sama Dengan Melarang Mentaati Aturan Agama

bercadar
Lagi-lagi Kasus larangan mahasiswi mengenakan cadar terjadi lagi. Dan anehnya, larangan tersebut dari salah satu Universitas Islam Negeri (UIN). Padahal cadar adalah satu syari'at islam bagi kaum wanita. 

Jika ada kampus entah itu UIN, PT, dsb. Jika melarang mahasiswinya menggunakan cadar, artinya sama saja melarang seorang mahasiswi untuk taat pada aturan agamanya.

Memang, perguruan tinggi memiliki otonomi kampus.Tapi tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap mahasiswanya karena tidak sesuai dengan keinginan kampus.

Bercadar adalah perintah dalam agama. Empat madzhab pun mewajibkan hukum cadar. Namun dalam madzhab syafi'i (para pengikutnya) berpendapat cadar adalah keutamaan. Pendapat inilah yang diambil oleh mayoritas islam sekarang ini.

Masalah mahasiswi mau menggunakan cadar atau tidak, hal itu tergantung pilihannya. Salahkah bila seorang wanita memakai cadar ke kampusnya? Seharusnya, kampus tidak boleh diskriminasi terhadap paham yang dianut mahasiswanya.

Kalau  cadar dilarang karena khawatir dengan paham radikal. Tak sedikit di luar sana tanpa cadar pun bahkan lebih radikal. Kalau dilarang bercadar karena tidak bisa menjamin waktu ujian kebenaran orangnya, bisa dilihat dari ciri-cirinya, dari suaranya, dari identitasnya, atau suruh buka cadar  untuk sementara untuk cek kebenarannya.

Aturan kampus melarang mahsiswinya bercadar tak ubahnya merampas hak asasi manusia. Lalu dimana kampus yang dulunya selalu menggaungkan tentang HAM? apakah cadar melaranggar HAM? Tentu tidak. Justru aturan kampus yang melarang bercadar itulah yang merampas HAM mahasiswinya.

3/09/2018

Kisah Adzan Terakhir Bilal bin Rabbah

kisah adzan bilal
Kisah Adzan Terakhir Bilal bin Rabbah. Kisah Bilal bin Rabbah ini sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Apalagi Bilal bin Rabbah merupakan salah satu sahabat, yang suaranya sandalnya di surga terdengar oleh Nabi.

Dalam buku 101 kisah teladan, Kisah Adzan Terakhir Bilal diceritakan :


Sejak Rasulullah wafat, Bilal meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak lagi melantukan Adzan di puncak Masjid Nabawi di Madinah. Bahkan permintaan Khalifah Abu Bakar ketika itu, yang kembali memintanya untuk menjadi muadzin tidak bisa Ia penuhi.

Dengan kesedihan yang mendalam Bilal berkata : 

“Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

Khalifah Abu Bakar pun bisa memahami kesedihan Bilal dan tak lagi memintanya untuk kembali menjadi muadzin di Masjid Nabawi, melantunkan Adzan panggilan umat muslim untuk menunaikan shalat fardhu.

Kesedihan Bilal akibat wafatnya Rasulullah tidak bisa hilang dari dalam hatinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Madinah, bergabung dengan pasukan Fath Islamy hijrah ke negeri Syam. Bilal kemudian tinggal di Kota Homs, Syria...,

Sekian lamanya Bilal tak berkunjung ke Madinah, hingga pada suatu malam, Rasulullah Muhammad SAW hadir dalam mimpinya. Dengan suara lembutnya Rasulullah menegur Bilal :

“Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?“

Bilal pun segera terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Ia mulai mempersiapkan perjalanan untuk kembali ke Madinah. 

Bilal berniat untuk ziarah ke makam Rasulullah setelah sekian tahun lamanya Ia meninggalkan Madinah.

Setibanya di Madinah, Bilal segera menuju makam Rasulullah. Tangis kerinduannya membuncah, cintanya kepada Rasulullah  begitu besar. 

Cinta yang tulus karena Allah kepada Baginda Nabi yang begitu dalam.

Pada saat yang bersamaan, tampak dua pemuda mendekati Bilal. Kedua pemuda tersebut adalah Hasan dan Husein, cucu Rasulullah.

Masih dengan berurai air mata, Bilal tua memeluk kedua cucu kesayangan Rasulullah tersebut.

Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah, juga turut haru melihat pemandangan tersebut. Kemudian salah satu cucu Rasulullah itupun membuat sebuah permintaan kepada Bilal.

“Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”

Umar bin Khattab juga ikut memohon kepada Bilal untuk kembali mengumandangkan Adzan di Masjid Nabawi, walaupun hanya satu kali saja. Bilal akhirnya mengabulkan permintaan cucu Rasulullah dan Khalifah Umar Bin Khattab...


Saat tiba waktu shalat, Bilal naik ke puncak Masjid Nabawi, tempat Ia biasa kumandangkan Adzan seperti pada masa Rasulullah masih hidup. Bilal pun mulai mengumandangkan Adzan.

Saat lafadz “Allahu Akbar” Ia kumandangkan, seketika itu juga seluruh Madinah terasa senyap.

Segala aktifitas dan perdagangan terhenti. Semua orang sontak terkejut, suara lantunan Adzan yang dirindukan bertahun-tahun tersebut kembali terdengar dengan merdunya.

Kemudian saat Bilal melafadzkan “Asyhadu an laa ilaha illallah“, penduduk Kota Madinah berhamburan dari tempat mereka tinggal, berlarian menuju Masjid Nabawi.

Bahkan dikisahkan para gadis dalam pingitan pun ikut berlarian keluar rumah mendekati asal suara Adzan yang dirindukan tersebut.

Puncaknya saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“, seisi Kota Madinah pecah oleh tangis dan ratapan pilu,  teringat kepada masa indah saat Rasulullah masih hidup dan menjadi imam shalat berjamaah.

Tangisan Khalifah Umar bin Khattab terdengar  paling keras. Bahkan Bilal yang mengumandangkan Adzan tersebut tersedu-sedu dalam tangis, lidahnya tercekat, air matanya tak henti-hentinya mengalir...

Bilal pun tidak sanggup meneruskan Adzannya, Ia terus terisak tak mampu lagi berteriak melanjutkan panggilan mulia tersebut.

Hari itu Madinah mengenang kembali masa saat Rasulullah masih ada diantara mereka. Hari itu, 

Bilal melantukan adzan pertama dan terakhirnya semenjak  kepergian Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkannya. 

Bahaya Facebook Menurut Al Quran Surat Al-‘Ashr Dan Hadits Nabi

bahaya facebook
Tak dapat dipungkiri, bahwa yang namanya facebook, akan selalu mempunyai nilai dua sisi. Sisi kabaikan dan sisi keburukan. Hanya saja, dari sekian jumlah pengguna facebook. Sedikit sekali yang menyadari akan bahaya serta dampak buruk dari keseringan bermain facebook.

Facebook bisa dikatakan sebagai media sosial favorit, terbesar, dan banyak penggemarnya. Facebook adalah salah satu dari sekian banyak Situs Jejaring Sosial yang ada di jagad maya. Dulu, kita mengenal telegram, friendster, dsb. Namun pada akhirnya, sedikit demi sedikit akun akun sosmed semakin ditinggalkan dengan hadirnya beberapa sosial media. Salah satunya facebook ini, yang diluncurkan pada bulan Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg 

Terlepas dari itu semua, tanpa kita sadari, setan bisa menggangu kita melalui facebook ini. Jika tidak berhati-hati, bisa terjerumus dalam berbagai dosa dan maksiat. 

Tanyakan pada diri kita, berapa jam kita dalam sehari bermain facebook? Berapa banyak waktu yang kita gunakan antara sekedar baca Al Qur'an meskipun beberapa ayat dengan membaca status orang? 

Intinya Habis mandi, Facebook. Habis nyapu, Facebook. Habis masak, Facebook. Habis nyuci, Facebook. Habis makan, Facebook. Habis bangun tidur, Facebook. Tengah malam, Facebook. Pokoknya, tiada hari tanpa facebook tiada malam tanpa berfacebook.

Inilah kerugian dampak buruk jika keseringan serta kecanduan bermain facebook. Yakni, salah satunya adalah rugi waktu. Allâh Swt telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (al-‘Ashr 1-3)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari, no. 5933).

Cukup jadikan renungan bagi kita. Mungkin selama ini, kita terlalu banyak facebookannya dari pada ngajinya. Terlalu banyak update statusnya dari pada update imannya. Terlalu sering sibuk facebook dari pada sibuk belajar.

Tanpa kita sadari, berapa waktu yang telah terbuang, berapa kesempatan yang telah kita lewatkan. Hanya karena terlalu sibuk dengan facebookannya. 

3/04/2018

Dzikir Yang Ringan Di lisan Berat Di Timbangan

subhanallah hil 'adzim
Dzikir Yang Ringan Di lisan Namun Berat Di Timbangan

Sebuah dzikir yang mudah dirutinkan setiap saat, namun berat di timbangan amalan. Dzikir tersebut adalah bacaan “Subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim”.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Dalam Muqoddimah Fathul Bari, Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan keutamaan hadits tersebut :

Maksud “dua kalimat” adalah untuk memotivasi berdzikir dengan kalimat yang ringan.

Maksud “dua kalimat yang dicintai” adalah untuk mendorong orang berdzikir karena kedua kalimat tersebut dicintai oleh Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih).

Maksud “dua kalimat ringan” adalah untuk memotivasi beramal (karena dua kalimat ini ringan dan mudah sekali diamalkan).

Maksud “dua kalimat yang berat di timbangan” adalah menunjukkan besarnya pahala.

Alur pembicaraan dalam hadits di atas sangat bagus sekali. Hadits tersebut  menunjukkan bahwa cinta Rabb mendahului hal itu, kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba. Setelah itu diikuti dengan balasan dua kalimat tadi pada hari kiamat. 

Makna dzikir tersebut disebutkan dalam akhir do’a penduduk surga yang disebutkan dalam firman Allah,

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Do’a mereka di dalamnya adalah: Subhanakallahumma, dan salam penghormatan mereka adalah: Salam. Dan penutup doa mereka adalah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.” (QS. Yunus: 10)